Dari Diskusi Membedah Buku “Angin Menerpa Menara” (3)

  T erdapat dua segi atau dimensi dalam RBKP. Pertama, ia merupakan puncak dari perjuangan dua garis di mana Mao menggerakkan dan memobilis...

 
Terdapat dua segi atau dimensi dalam RBKP. Pertama, ia merupakan puncak dari perjuangan dua garis di mana Mao menggerakkan dan memobilisasi massa untuk merebut kekuasaan politik dari kaum revisionis yang sudah  mendominasi Partai dan Negara. Dengan begitu Sosialisme dapat didorong maju dan dikonsolidasi. Kedua, tujuan strategis RBKP adalah menyelesaikan masalah pandangan dunia. Massa rakyat luas dibangkitkan supaya turut ambil bagian aktif dalam proses merubah pandangan dunianya: pandangan dunia lama yang diwarisi dari feodalisme diubah berangsur-angsur melalui belajar Fikiran Mao Tsedong dan menerapkannya dalam revolusi kebudayaan, praktek produksi, penelitian ilmu dan kehidupan secara umum. Dengan demikian ideologi, kebudayaan, mentalitas, gaya hidup, dan semua yang merupakan bagian dari bangunan atas akan sesuai dengan basis ekonomi sosialis. 

RBKP telah membuat saya sadar bahwa kekuasaan Liu-Deng di Pusat cukup besar sehingga aparatusnya dapat memotong atau mengabaikan Komite Sentral dan Mao. Misalnya pada tahun 1955, dari 53 ribu koperasi, 15 ribu dibubarkan. Menurut Mao penyusutan terang-terangan itu bukan karena keputusan Komite Partai Zhejiang, tapi karena perintah dari Pusat. “Dalam sekali hunjam, 400 ribu rumah tangga petani kembali menjadi pertanian perseorangan …. Ini semua sama sekali salah, diputuskan dalam keadaan bingung dilanda kepanikan. Juga tidak dibenarkan mengambil keputusan sebesar itu tanpa persetujuan Komite Sentral.” Mao harus selalu berusaha meyakinkan kawan-kawannya supaya menerapkan Materialisme Dialektika. Selama 10 tahun RBKP Mao berhasil menunda restorasi kapitalisme.
 
Remo Indonesia
 
Apa itu Revisionisme? Mao menjawab: ”Revisionisme atau oportunisme kanan adalah satu aliran pikiran borjuis yang bahkan lebih berbahaya  dari pada dogmatisme. Kaum revisionis atau kaum oportunis kanan memakai Marxisme hanya sebagai polesan di bibir dan mereka juga menyerang dogmatisme. Tetapi apa yang mereka serang sebenarnya adalah sari pati dari Marxisme”.
 
Salah satu prinsip yang dianggap sari pati dari Marxisme adalah perjuangan klas merupakan motor pendorong sejarah umat manusia. Deng Xiaoping dalam pidatonya di depan sidang CCPKT tahun 80-an berkata: “dia bermimpi di Tiongkok ada klas borjuis. Tidak bisa! Pada tahun 1949 kita sudah membasmi klas borjuis dan melakukan pembangunan Sosialisme, bagaimana bisa ada klas borjuis? Mengatakan bahwa perjuangan klas masih belum selesai? Itulah pikiran Revolusi Kebudayaan”.

Sementara itu, dokumen Kongres PKT ke IX, 1969 menyatakan “Masyarakat sosialis meliputi satu periode sejarah yang cukup panjang. Dalam periode sejarah sosialis, masih ada klas, kontradiksi klas dan perjuangan klas, ada perjuanganan tara jalan sosialis dan jalan kapitalis dan ada bahaya restorasi kapitalisme”.
 
Justru karena adanya perjuangan klas itulah Mao tak pernah berhenti menghadapi sabotase dan perlawanan terbuka maupun tersembunyi dari sesama kawan pimpinan yang berusaha menerapkan garis revisionis yang akan membawa Tiongkok ke kapitalisme. Jelas terlihat penyelewengan revisionis Deng Xiaoping yang setali tiga uang dengan dedengkot remo Khrushchov: sama-sama tidak mengakui adanya perjuangan klas dalam periode sosialis.
 
Anehnya, S. Suroso, yang pernah diusir dari Soviet, karena menentang remo Krushchov, ketika restorasi kapitalisme terjadi di Tiongkok, bukannya membela Mao dan Sosialisme  tapi malah menganggap Deng telah mengembangkan Marxisme dengan ”ide dan gagasan brillian” yang belum ada dalam literatur Marxis, seperti “Tiongkok berada dalam tahap awal sosialisme; pasar berguna bagi kapitalisme, juga berguna bagi sosialisme; tugas utama sosialisme sesudah ditegakkan diktatur proletariat adalah membebaskan dan mengembangkan tenaga produktif, melancarkan reform dan politik pintu terbuka untuk membangun sosialisme berkepribadian Tiongkok......”

Kalau sekarang Tiongkok berada dalam “tahap awal sosialisme”, lalu apa nama-nya tahap setelah pembebasan Tiongkok tahun 1949 sampai meninggalnya Mao tahun 1976? Dan kapan selesainya tahap awal sosialisme itu?

S. Suroso membela digunakannya mekanisme pasar untuk membangun Sosialisme. Ekonomi pasar memerlukan dukungan kepemilikan perseorangan, persaingan, dan produksi yang ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar dan penghisapan tenaga kerja yang melahirkan nilai lebih yang dirampas sebagai profit oleh kaum pemilik modal. Sedangkan pembangunan sosialisme membutuhkan, dan karena itu, memupuk nilai-nilai moral dan etik baru, seperti  semangat berkorban untuk kepentingan kolektif dan masyarakat, solidaritas, kebersamaan dan kesetaraan.

Tujuan kolektivisasi sampai Komune Rakyat antara lain adalah untuk memupuk pandangan dunia dan nilai-nilai baru yang akan mendorong maju konsolidasi sosialisme. Tapi Deng membubarkan Komune Rakyat, tanah diserahkan pengelolaannya kepada keluarga yang menentukan sendiri tanaman dan harganya  menurut permintaan pasar. Itulah reformasi kapitalisme yang diselubungi nama “sosialisme dengan ciri Tiongkok”.

Teori Deng lainnya yang dibela S. Suroso adalah “membebaskan dan mengembangkan tenaga produktif”sebagai tugas utama sosialisme.

Dalam karyanya “Tentang Kontradiksi” Mao menulis:”Benar, tenaga produktif, praktek dan basis ekonomi pada umumnya memainkan peran yang menentukan; siapa yang menyangkal ini, bukanlah seorang materialis. Tetapi juga harus diakui, bahwa dalam kondisi tertentu, aspek seperti hubungan produksi, teori dan suprastruktur pada gilirannya menampilkan diri dan memainkan peran pokok dan menentukan”.

Ubah filsafat menjadi senjata ampuh di tangan massa”. Tani memegang brosur karya Mao “Tentang Kontra diksi”; di belakang terlihat kaum tani sedang bekerja dan lahan pertanian bertingkat di lereng gunung. Lima huruf di belakang berbunyi “Nong Ye Xue Da Zhai”, Pertanian Belajar Pada Dazhai!

Liu-Deng bertolak dari materialisme mekanik : tenaga produktif sebagai aspek pokok dalam kontradiksi antara tenaga produktif dan hubungan produksi, dan dia mengembangkannya dengan mencampakkan hubungan produksi yang sudah dalam proses perubahan menuju hubungan produksi sosialis. Mereka tidak melihat hubungan dialektis antara tenaga produktif dan hubungan produksi. Bagaimana bisa bicara tentang “membebaskan dan mengembangkan” tenaga kerja, kalau majikan bisa sewenang-wenang memecat buruh, sewenang-wenang menekan upah buruh untuk mempertahankan murahnya harga produk Tiongkok?

Sedangkan Mao menerapkan materialisme dialektis, yaitu di bawah kondisi tertentu aspek pokok dari kontradiksi bisa bermutasi menjadi tidak pokok. Hubungan produksi feodal yang tadinya merupakan aspek tidak pokok, mengalami perubahan besar ketika kaum tani dibebaskan dari penghisapan melalui reforma agraria dan kolektivisasi. Ketika tercapai puncak tertinggi kolektivisasi melalui pembentukan Komune Rakyat, hubungan produksi feodal  dihancurkan dan digantikan dengan hubungan produksi sosialis. Hubungan produksi sosialis sebagai aspek pokok dari kontradiksi sekarang mempunyai peran menentukan dalam mengembangkan tenaga produktif. Kesadaran kaum tani  terus mengalami pening katan. Itulah yang menjadi kekuatan material dan mendorong maju tenaga produktif.
 
Dazhai adalah bukti suksesnya garis ”Mencengkam Revolusi dan Mendorong Produksi” yang diajukan Mao dalam RBKP. Dalam proses perjuangan mengubah alam yang tidak menguntungkan itu, kaum tani Dazhai melancarkan perjuangan politik melawan ide-ide revisionis-kapitalis yang menentang kolektivisasi. Kesadaran yang tadinya merupakan aspek yang ditentukan oleh materi, sekarang beralih kedudukannya. Ia menjadi aspek yang berperan menentukan dalam mendorong maju perkembangan. Dalam kasus Dazhai, mendorong maju produksi. Kesadaran telah menjadi kekuatan materi yang dicerminkan dalam kekuatan, keteguhan, kreativitas kaum tani yang berjuang untuk memperbaiki kehidupannya sendiri.
 
Penahapan baru kaum revisionis yang dikemukakan S. Suroso di atas bertentangan dengan Undang-Undang Dasar RRT yang pernah mereka sempurnakan sendiri pada tahun 1982, di mana dirumuskan: ”Transformasi sosialis dari kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi sudah selesai, sistim penghisapan manusia oleh manusia sudah dilenyapkan, dan sistim sosialis sudah didirikan, diktatur demokrasi rakyat di bawah pimpinan proletariat berdasarkan persekutuan buruh dan tani, yang hakekatnya adalah diktatur proletariat, sudah dikonsolidasi dan dikembangkan.”
 
Masih di tahap awal Sosialisme tapi penghisapan manusia oleh manusia sudah dilenyapkan? Lantas apa namanya perampasan nilai lebih oleh pemilik modal/pabrik yang dihasilkan dari sistim kerja 996 (kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam selama 6 hari seminggu)? Rupanya pengertian tentang penghisapan di kalangan kaum remo sudah berbeda dari yang dikemukakan Marx. S. Surosopun  bertanya: ”Apakah memperbolehkan usaha swasta, yang berarti memperbolehkan pemilik modal memperoleh laba dari nilai lebih yang dihasilkan buruh dianggap sebagai mengembangkan penghisapan? Kalau bukan penghisapan, lalu apa namanya perampasan nilai lebih  itu? Hadiah Tahun Baru kaum buruh untuk kaum kapitalis?

Tokoh remo lainnya, Ibrahim Isa, dalam oleh-oleh kunjungan ke Tiongkok, tak sekali pun menyinggung masalah “penghisapan”. “Penghisapan” sudah menjadi tabu bagi para pendukung “Sosialisme dengan ciri khusus Tiongkok”.  Logislah mereka tidak mau bicara soal penghisapan, karena pada “Kongres Partai ke 16, kalimat Sosialisme harus “melenyapkan penghisapan” dihilangkan dari Piagam Partai tanpa penjelasan apapun” (Surat 170 anggota dan kader PKT kepada Sekjen Hu Jintao).

ChanCT, pengelola milis Gelora 45, remo kecil, lebih ngawur lagi. Ia menganggap kerja sukarela yang dilakukan kaum buruh/kaum tani dalam pembangunan Sosialisme sebagai penghisapan oleh pemerintahan Mao. Jadi Che Guevara yang bekerja sukarela menebang tebu atau pembangunan setelah kerja di kantornya selesai, juga “menderita penghisapan” pemerintah yang dia turut dirikan.

Sementara itu, S.Suroso menuduh orang-orang yang terus membela RBKP dan menolak penilaian para penguasa PKT dan RRT yang sekarang terhadap RBKP sebagai orang-orang yang anti Tiongkok.

Orang-orang komunis Indonesia, di tengah teror putih ketiga yang paling kejam  dan berdarah, pernah mengeluarkan pernyataan mendukung Mao dan RBKP.

S. Suroso menuduh orang-orang komunis itu “dibutakan dari informasi tentang perkembangan Tiongkok yang sudah mengalami perobahan drastis. Tanpa mengetahui perkembangan besar Tiongkok, maka tidak sedikit orang yang terus berpegang pada pendirian  lama, mendukung RBKP. Padahal, semenjak tahun 1981, pimpinan Partai Komunis Tiongkok sudah menyatakan bahwa RBKP salah”.

Namun, bulan Mei 2007, dalam “Pernyataan Penegasan akan Arti Penting dan Relevansi dari Perjuangan Anti-Revisionis dan Revolusi Besar Kebudayaan Proletar”,  kaum komunis dan kaum revolusioner di dunia  menyatakan:” Teori dan praktek meneruskan revolusi di bawah kediktaturan proletariat melalui RBKP, merupakan sebuah tahap baru yang lebih tinggi dalam perkembangan Marxisme-Leninisme”.

I.Isa juga menampilkan tulisan A. Munandar, yang  menganggap “Lompatan Jauh Ke depan”, Komune Rakyat dan RBKP merupakan kesalahan berat. Tapi A.Munandar tidak berani menuding Mao Zedong sebagai yang bertanggung jawab atas semua “kesalahan” itu. Barangkali dia merasa “sungkan” mengingat sikapnya dulu ketika memimpin di Timur dimana kebijakan yang dikeluarkan adalah mendukung  PKT, Mao dan RBKP.
 
Buku “Angin Menerpa Menara”  telah memperkaya referensi dan memperdalam pemahaman saya terkait dengan perjuangan sengit Mao melawan remo di dalam PKT dan juga di GKI. Fakta sejarah menunjukkan Partai yang dijangkiti  Revisionisme tak akan dapat membawa revolusi ke kemenangan. Sosialisme tak akan dapat dikonsolidasi dan maju ketahap lebih tinggi, yaitu komunisme, kalau tidak melancarkan perjuangan klas untuk menyelesaikan kontradiksi antara jalan kapitalisme dan Sosialisme.
 
Khrushchov menyerang Komune Rakyat dan Lompatan Jauh ke Depan sebagai “borjuis kecil…fanatik… petualangan.” Peng Dehuai menggunakan istilah yang sama dalam “surat pendapatnya”. Liu-Deng juga menyalahkan Komune Rakyat dan RBKP. S. Suroso, I. Isa, A. Munandar, Chan CT mengikuti jejak kaum remo Soviet dan Tiongkok: Komune Rakyat, Lompatan Jauh Ke depan dan RBKP semua salah!

Jelas terlihat kaum remo Soviet, Tiongkok dan Indonesia sama-sama menentang pem bangunan Sosialis yang dipimpin Mao, yang oleh Prof. Wertheim dinamakan “perkembangan model Mao”.

Berikut pendapatnya: “Pada awal tahun 80-an, menjadi cukup jelas bagi saya bahwa politik yang dijalankan  Partai Komunis Tiongkok, walau pun masih mempertahankan nama dan pura-pura mendukung ’Fikiran Mao Zedong’, sudah sama sekali meninggalkan apa yang saya namakan perkembangan model Mao. Pukulan terakhir terhadap politik Mao adalah dibongkarnya komune rakyat dan menggantikan ’garis massa’ Mao dengan komitment sepenuhnya kepada tindakan hukum sebagai cara untuk menjamin kesepakatan rakyat dengan tujuan yang ingin di capai pimpinan partai. Pernyataan Deng Xiaoping bahwa ’memperkaya diri sendiri adalah sesuatu yang harus dipuji’ berarti, dalam praktek sebenarnya, kapitalisme diundang masuk melalui pintu depan”. (Wim F. Wertheim:” Lasting Signifi cance of Mao- Model For Third World Countries”). (Tatiana Lukman).

 
--- Selesai ---

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

Arsip Blog

item