Jumlah Buruh dan Struktur di Industri Sepatu di Indonesia

Jumlah Buruh dan Struktur di Industri Sepatu di Indonesia INFO GSBI – Jakarta. Industri sepatu di Indonesia mulai berkembang dengan kedatang...


Jumlah Buruh dan Struktur di Industri Sepatu di Indonesia

INFO GSBI – Jakarta. Industri sepatu di Indonesia mulai berkembang dengan kedatangan modal asing. Pada 1940-an, perusahaan sepatu asal Ceko bernama Bata membuka pabriknya di Jakarta. Pabrik sepatu Bata hingga saat ini masih beroperasi, Bata memproduksi beragam sepatu; sepatu kulit, sepatu harian, dan sepatu olah raga. Batapun memproduksi beragam merek: Bata, Marie, Claire, Power, Bubblegum-mers, and Weinbrenner.

Akhir 1970-an pemerintah Indonesia mengintegrasikan diri pada ekonomi global. Pada 1982 pemerintah Indonesia mengadopsi strategi industri berorientasi ekspor, setelah merosotnya pendapatan dari sektor minyak. Sejak itu, banyak perusahaan asing di sektor padat karya yang membuka pabrik, seperti pabrik sepatu dan pakaian. Faktor lain yang berpengaruh terhadap perubahan ini adalah terbatasnya keterasediaan buruh dan naikknya ongkos produksi di dua negara produsen sepatu sebelumknya; Taiwan dan Korea Selatan. Selanjutnya, pada kisaran waktu yang sama (tahun 1988), baik Korea Selatan maupun Taiwan kehilangan pasar Amerika, setelah di hilangkannya General System Preferences (GSP).

 

GSP adalah kebijakan perdagangan suatu negara yang memberi pemotongan bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima. Ini merupakan kebijakan perdagangan sepihak (unilateral) yang umumnya dimiliki negara maju untuk membantu perekonomian negara berkembang, tetapi tidak bersifat mengikat bagi negara pemberi maupun penerima.

 

Negara pemilik program GSP bisa bebas menentukan negara mana dan produk apa yang akan diberikan pemotongan bea masuk impor.

Sejauh ini, Indonesia sudah menerima GSP dari beberapa negara termasuk AS, negara-negara di Uni Eropa dan Australia.

 

GSP dan Most Favoured Nation " (MFN) berada di bawah lingkup WTO.

Merespon penghilangan GSP, industri sepatu global memindahkan basis produksinya dari Taiwan dan Korea Selatan ke lokasi baru seperti semenanjung timur Cina, Vietnam dan Indonesia. Perpindahan tersebut bertujuan untuk mendapatkan ongkos produksi yang lebih murah, ketersediaan pasokan sumber daya (tenaga kerja yang berlimpah dan murah) dan peningkatan kapasitas produksi baru.

Di Indonesia,  beberapa perusahaan subkontrakor dari Taiwan dan Korea Selatan adalah perusahaan pemegang lisensi untuk membuat berbagai merek sepatu terkenal; Nike dan Adidas. Beberapa perusahaan sepatu luar negeri yang telah membangun pabriknya di Indonesia antara lain; Clark, Timberland, Echo, dan Fortuna. Korindo- sebuah perusahaan asal Korea di Indonesia – membangun pabrik sepatunya di Indonesia pada 1985. Perusahaan sepatu dan pakaian raksasa Nike membangun pabrik pertamanya di Indonesia pada 1988. Menarik  untuk  mencatat, mungkin bukan kebetulan, Asosiasi Pengusaha Industri Sepatu Indonesia (Aprisindo) berdiri pada tahun yang sama.

Jumlah Buruh Industri Sepatu

Industri alas kaki (sepatu) Indonesia masuk dalam empat besar produsen alas kaki dunia di bawah Tiongkok, India, dan Vietnam. Dengan produksi 1,41 miliar pasang sepatu pada tahun 2018, Indonesia berkontribusi sekitar 4,6% terhadap total produksi sepatu dunia.

Industri alas kaki Indonesia mampu menapaki kemampuannya di kancah global dengan menghasilkan beragam produk yang berkualitas dan inovatif.

Saat ini jumlah industri alas kaki (sepatu) di Indonesia tercatat ada 18.687 unit usaha yang meliputi sebanyak 18.091 unit usaha merupakan skala kecil, kemudian 441 unit usaha skala menengah, dan 155 unit usaha skala besar. Dari belasan ribu unit usaha tersebut, serapan tenaga kerja telah mencapai 795.000 orang, dan kira-kira terdapat 1 juta orang yang bekerja di industri yang menopang industri persepatuan. Sayangnya tidak ada data resmi tentang komposisi jender. Tapi secara luas diketahui jika sektor garmen, tekstil dan sepatu mempekerjakan lebih banyak buruh perempuan. Sebagai garmbaran kasar, dari 131.958 buruh di 20 pabrik yang memproduksi merek Nike dan Converse di Indonesia, presentasi buruh perempuan mencapai 75 persen. (di olah dari data yang dimuat di website Nike (http://nikeinc.com/pages/manufacturing-map.

Industri alas kaki (sepatu) merupakan salah satu sektor manufaktur andalan yang mampu memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Ini tercemin dari pertumbuhan kelompok industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki yang mencapai 9,42% pada tahun 2018 atau naik signifikan dibandingkan tahun 2017 sekitar 2,22%. Capaian itu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,17%.

Ekspor alas kaki (sepatu) Indonesia juga mengalami peningkatan hingga 4,13%, dari tahun 2017 sebesar US$ 4,91 miliar menjadi US$ 5,11 miliar di 2018.

Strukur Industri Sepatu

Berdasarkan skalanya, ada dua jenis pemain dalam industri sepatu di Indonesia: produsen sepatu berbasis rumahan dan industri sepatu menengah sampai besar yang mempekerjakan lebih dari 20 orang – sebagaimana BPS membagi industri kedalam empat kategori: Mikro (1-4 buruh), kecil (5-19 buruh), menengah (20-99 buruh), dan besar (mempekerjakan lebih dari 99 buruh).

Seperti disebutkan sebelumnya industri rumahan memproduksi sepatu dengan menggunakan tangan (hand-made). Bisa ditemukan di Cibaduyut, Bogor, Garut, Tasikmalaya (Jawa Barat), dan Jombang, pesisir Surabaya dan Jogjakarta. Biasanya bengkel industri rumahan tersebut mendapatkan modal dan bahan baku (kulit, lem dll), serta menerima order dari industri sepatu yang lebih besar, yang biasanya juga memiliki toko sepatu atau memiliki koneksi dengan jaringan pembeli besar atau perusahaan pemegang merek. Industri rumahan memasok pasar domestik, atau memenuhi kebutuhan pasar lokal kecil, seperti memasok sandal untuk hotel atau sepatu untuk pegawai negeri sipil. Sampai tahun 2000, bengkel sepatu di kampung Jomin Kabupaten Karawang Jawa Barat juga memasok bagian sepatu (alas bawah dan atas) untuk perusahaan Bata, yang membuka pabrik barunya di dekat kota Purwakarta. Industri sepatu Jomin kemudian bangkrut setelah Bata menghentikan ordernya. Jumlah buruh pada industri rumahan ini sangat fluktuatif (naik turun), tergantung dari permintaan pasar. Permintaan pasar naik pesat, biasanya saat menjelang idul fitri. jumlah orang yang direkrutpun akan bertambah. Saat musim permintaan turun, bengkel-bengkel tersebut akan tutup atau bergabung dengan bengkel lain menjadi satu bengkel. Sehingga, sangat sulit untuk mengetahui jumlah pasti buruh pada industri sepatu rumahan.

Produsen sepatu rumahan kadang-kadang bergabung dalam sebuah koperasi – seperti asosiasi dengan tingkat lokal di kota mereka. Hanya sebagian kecil dari mereka yang terdaftar sebagai anggota Aprisindo. Aprisindo umumnya beranggotakan perusahaan manufactur besar pemasok ragam komponen dan perusahaan dagang. Seperti tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun 2005-2012 , jumlah perusahaan sepatu menengah-besar berkisar antara 500-800 perusahaan. Diperkirakan 633 perusahaan berdiri tahun 2012.

Sejarah Aprisindo jelas berhubungan dengan arus relokasi banyak perusahaan manufactur pemasok sepatu dari Taiwan dan Korea Selatan ke Indonesia. Hal ini seiring dengan perusahaan-perusahaan pemegang merek raksasa seperti Nike memindahkan basis produksinya ke China, Vietnam dan Indonesia. Pada sebuah wawancara media pada November 1994, Tony Nava, perwakilan perusahaan Nike di Indonesia mengatakan, bahwa terdapat 11 perusahaan kontraktor utama di Indonesia, dan puluhan subkontraktor. Perusahaan-perusahaan itu adalah mantan kontraktor Nike dalam jangka panjang yang sebelumnya beroperasi di Kores Selatan dan Taiwan. Perusahaan-perusahaan tersebut pun pada saat yang sama memproduksi merek lain seperti Reebok, Adidas. Fila dan Puma.

Pengaruh Nike dan Adidas dalam Aprisindo juga jelas terlihat dalam website resmi Aprisindo. Sementara perusahaan lain hanya terdaftar sebagai anggota biasa, dua perusahaan (Adidas Sourcing Limited dan PT. Nike Indonesia) disebutkan sebagai angota asosiasi langsung (lihat; www.aprisindo.co.id). Dua anggota Aprisindo yang bukan perusahaan manufactur langsun. Kedua perusahaan tersebut berkonsentrasi lebih pada kontrol mutu (quality control), mengawasi proses produksi yang di outsource-kan keberbagai perusahaan produksi sepatu dan pakaian, dan dalam hal pengiriman melalui kapal ke pasar global. Ketika industri menjadi semakin berorientasi ekspor, Indonesia menjadi semakin penting sebagai basis produksi Nike dan Adidas. Pada tahun fiskal 2012, sebagaimana di rilis dalam Annual Report tahun 2013 Nike Inc,  sekitar 20 kontrak pabrik di Indonesia memproduksi sekitar 24 persen dari total sepatu Nike.

Sementara Group Adidas juga meng-outsource-kan hampir 100 persen produksinya pada pemasok. Berdasarkan pada Annual Report Adidas Group tahun 2012.  Pada tahun 2012, Group Adidas memproduksi 224 juta pasang sepatu, dan 26 persen dari jumlah tersebut paling sedikit dikerjakan oleh 60 perusahaan di Indonesia.

Beberapa perusahaan manufactur sepatu di Indonesia dimiliki oleh perusahaan lokal (dalam negeri). PT. Hardaya Aneka Shoes Industry (HASI) dan PT. Nagasaki Paramshoes industry (Nasa) adalah dua perusahaan yang di miliki oleh pengusaha dalam negeri yang mendapatkan kontrak untuk memasok Nike. Beberapa perusahaan sepatu besar asal Taiwan telah membuka pabriknya di Indonesia, antara lain; Pou Chen Corporation, Feng Tay Enterprise, Ching Luh Shoes Co, Dean Shoes Co, dan Ever Rite International Co Ltd.

Perusahaan manufactur sepatu raksasa Pou Chen mendirikan pabrik nya di Indonesia sejak 1992, mewakili masuknya gelombang investasi dari Taiwan pada periode 1990an. Dengan total buruh mencapai 110.000, Pou Chen menjadi perusahaan Taiwan terbesar di Indonesia. Dua perusahaan ini, Pou Chen dan Feng Tay memasok 45 persen sepatu Nike di seluruh dunia.

Perusahaan manufactur sepatu asal Taiwan lainnya yang lebih kecil seperti; Nangkang, baru masuk ke Indonesia pada tahun 2010. Menurut Harijanto anggota dewan Aprsindo, sekitar 70 persen perusahaan manufactur sepatu dengan skala menengah – besar dimiliki oleh modal asing. [rd-gsbi2021]

 

Sumber tulisan; dari buku “Dari Mana Pakaianmu Berasal? Upah dan Kondisi Kerja Buruh Industri Garmen, Tekstil dan Sepatu di Indonesia”. terbitan Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) 2016.

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

Arsip Blog

item