Tentang Migrant dan Gerakan Serikat Buruh Sejati

Tentang Migrant dan Gerakan Serikat Buruh Sejati Oleh; Rudi HB. Daman, Ketua Umum GSBI Disampaikan dalam Acara Webinar: “Tantangan Buruh I...


Tentang Migrant dan Gerakan Serikat Buruh Sejati

Oleh; Rudi HB. Daman, Ketua Umum GSBI

Disampaikan dalam Acara Webinar: “Tantangan Buruh Indonesia dan Buruh Migran Dalam Memperjuangkan Perlindungan di Tengah Pandemi Covid 19” Rabu, 28 April 2021


1.  Gelombang buruh migran dari berbagai negeri setengah jajahan dan setengah feodal Asia, Afrika dan Amerika Latin bahkan dari berbagai negeri Eropa Timur adalah cerminan dari : ketidaksamaan dan ketimpangan perkembangan Antar Negeri, Bahkan ekspresi dari negeri-negeri yang terbagi secara lestari antara negeri jajahan dan setengah jajahann yang pra industrialis dengan negeri penjajah-industrialis di bawah imperialisme.

Eksodus dari negeri Latin Amerika sepanjang tembok perbatasan Meksiko dan Amerika sangat mengerikan. Penyeberangan laut mediterania oleh para migran afrika, gelombang migrasi dari Asia Tengah pusat perang intervensi dan agresi Amerika terus berlanjut. Tenaga-tenaga ahli bahkan dari dunia berkembang terus datang ke negeri imperialis karena kesenjangan perkembangan antar negeri di dunia.

Saat ini bahkan gerakan buruh migran di Perancis, Inggris dan negeri Eropa lainnya menjadi isu penting bagi gerakan buruh di negeri tersebut. Isu buruh tidak terpisahkan lagi dengan isu buruh migran.

2.  Gelombang migran, bagaimanana pun, adalah ironi. Gelombang migrasi dari negeri-negeri setengah jajahan dan setengah feodal ke negeri-negeri industrialis semakin besar, pada saat yang sama gelombang kapital finans dalam bentuk kapital produktif dan kapital utang terus membesar sejak ologarki finans terbentuk di dunia. Pada saat terjadi begitu banyak manufaktur-manufaktur dibangun oleh negara kapitalis di negeri-negeri agraris.

3.  Di Indonesia, Pedesaan adalah sumber buruh migran terbesar. jumlah lapangan kerja, dan hubungan antara lapangan kerja tersedia dengan upah untuk melayani perampasan tanah keperluan tunai di pedesaan yang tidak bisa terpenuhi dari kerja yang tersedia di pedesaan. Keperluan akan uang tunai di pedesaan semakin besar, sementara pekerjaan yang tersedia tidak menyediakan pendapatan tunai yang memadai untuk memenuhi konsumsi dari kaum tani kecil perseorangan yang tidak mampu lagi menjalankan produksi subsistensi dan dari upah yang sangat terbatas yang diperoleh secara harian oleh para buruh tani tidak bertanah. Jeratan hutang yang menumpuk menjadi beban yang akan lestari se-umur hidup karena defisit pendapatan berkelanjutan yang tidak mungkin akan terbayarkan apabila tidak ada sumber pendapatan tunai yang cukup, yang bisa membentuk “tabungan” dalam rangka pembayarannya.

4.  Isu migrasi yang menjadi sangat penting gerakan buruh di Indonesia karena berbagai hal :

a. Gelombang buruh migran ke berbagai negeri adalah cerminan dari kondisi pekerjaan yang terbatas, murah dengan kondisi kerja yang buruk dalam manufaktur-industrial di Indonesia. Akar dari kondisi ini adalah kondisi produksi pertanian yang sangat terbelakang di bawah dominasi sistem setengah feodal para tuan tanah, yang tidak bisa menciptakan lapangan kerja baru yang besar, akhirnya tenaga produktif mengalami kehancuran massal di pedesaan.

b. Gelombang migrasi ini menyebabkan persaingan antar kaum buruh dan pekerja lainnya menjadi sangat tinggi. Suplai tenaga kerja berlimpah sementara permintaan terbatas baik di dalam negeri Indonesia maupun internasional. Akhirnya, upah buruh yang tidak lain adalah harga pembelian tenaga kerja menjadi sangat rendah demikian pula dengan syarat kerja manusiawi lainnya terus memburuk.

Di pedesaan upah buruh tani yang ekstrem rendahya, tidak pernah melampau upah riil rerata 50-ribuan per hari, sudah sangat tinggi dan tidak terbayarkan bagi sistem pertanian kuno milik tuan tanah dan para tani berkepemilikan kecil. BPS menunjukkan bahwa upah buruh tani di pedesaan secara berkelanjutan dalam hitungan tahunan tidak pernah melebihi angka 50 ribuan, bahkan jauh tertinggal dari upah kuli bangunan perkotaan yang mencapai 80 ribuan. Sementara keperluan hidup terus melambung menggerus upah riil buruh tani dan tani miskin bahkan tani sedang bawah yang sebagian dari hidupnya sudah bergantung dari menjual tenaganya pada tuan tanah, tani kaya atau berbagai pekerjaan tambahan tidak reguler non pertanian di pedesaan. Bertahan di pedesaan tanpa perubahan sistem pertanian secara fundamental dan sistem ekonomi secara keseluruhan yang mendorong konsumsi rumah tangga dan biaya hidup sangat kencang sementara produksi pertanian tertinggal jauh di belakang adalah kematian!  

Bila produksi pertanian kolektif skala besar dan modern eksis di pedesaan untuk produksi bahan pangan dan bahan mentah, ceritanya akan lain. Industri bisa lahir, lapangan kerja pertanian akan optimal demikian pula lahir pekerjaan baru industrial di pedesaann seluruh Indonesia. 

Dalam situasi ini migrasi kaum tani dan buruh tani untuk memperoleh pendapatan yang relevan agar bisa hidup, mau tidak mau, akan terus menjadi salah-satu pilihan. Di tengah, sebenarnya pedesaan membutuhkan tenaga para pejuang untuk mengubah sistem produksi kuno untuk membebaskan tenaga produktif dari kehancuran massal karena keterbelakangan dan kemiskinan. Keperluan hidup di pedesaan terus meningkat, demikian pula dengan biaya untuk berproduksi, terus mengalami peningkatan meningkat secara paralel-bersisian. Mustahil menekan lagi upah buruh tani pada level yang lebih rendah.

c. Perlindungan buruh migran sejak dia menjadi target rekrutmen oleh PJTKI, selama proses penampungan dan pelatihan serta pada saat penempatan, bagaimana pun adalah isu penjualan tenaga massal, ladang penghisapan kapitalis monopoli internasional yang sangat besar. Dalam waktu bersamaan keseluruhan proses itu adalah penindasan atas rakyat yang sangat tidak berperi-kemanusiaan. Penyiksaan dan kematian, perkosaan dan pelecehan seksual serta berbagai isu lainnya hingga sekarang tidak tertangani oleh organ kekuasaan politik imperialis dan negara reaksioner Indonesia.

d. Remitansi dari hasil penjualan tenaga kerja buruh migran sudah menjadi sumber hidup bagi negara asalnya di satu sisi, dan dalam waktu bersamaan telah menjadi sumber pemotongan anggaran sosial di negeri penempatan. Dalam perkembangan sekarang, pengangguran besar di negeri imperialis, penekanan upah buruh tidak naik-naik di Amerika dari $9 per jam menjadi $ 15 meskipun telah dituntut lama, salah-satunya karena dengan licik negara imperialis menggunakan buruh migran sebagai instrumen penekan harga tenaga kerja dalam pertanian, pertambangan, jasa hingga manufaktur.

e. Hingga saat ini jumlah buruh migran untuk ambil bagian dalam organisasi masih sangat rendah dibandingkan dengan jumlahnya karena berbagai hal. Kemampuan subyektif organisasi migran dan serikat buruh sendiri di tengah tingginya intensitas tindasan dan pengaruh ekonomi, politik dan kebudayaan kapitalis yang sangat tinggi. Dari ratusan ribu buruh migran di Hongkong, baru terbatas yang memasuki gerakan buruh migran dan menjalankan aksi kolektif untuk perjuangan klas dan sektornya. Demikian pula dari jutaan buruh migran Indonesia yang terpencar di banyak negeri.

5. Karena itu penting untuk mempertimbangkan beberapa hal untuk memajukan kehidupan ekonomi, politik dan kebudayaan buruh migran melalui gerakan pembebasannya, di perlukan persatuan politik dan organisasional yang lebih kuat. Karena itu diperlukan beberapa kondisi sebagai berikut :

a. Penting bagi gerakan migran Indonesia untuk mempertimbangkan dan menjadikan tuntutan agar ikatan kontraktual buruh migran bisa bersifat kolektif, antara buruh migran dengan badan khusus atau negara di mana dia bekerja, tidak berlangsung secara personal dengan personal yang mempekerjakannya, terutama dalam lapangan kerja pelayanan rumah tangga atau kontraktual individual lainnya. Buruh migran Indonesia di Hongkong misalnya, harus berjuang agar kontraknyya dapat bersifat kolektif dengan badan khusus yang dibuat pemerintah SAR Hongkong, SAR Hongkong harus memiliki daftar personal atau rumah tangga yang telah diregistrasi dan dinyatakan layak mempekerjakan tenaga kerja Indonesia dan lainnya atas jaminan dan pertanggungan pemerintah atas badan tersebut. Masalah upah, diskriminasi dan kekerasan serta kondisi kerja buruh yang dialami oleh tenaga kerja Indonesia harus menjadi tanggung-jawab negara bukan tanggung-jawab perseorangan pengguna tenaga kerja. Diskusi lebih jauh tentang tuntutan ini harus diajukan ke depan.  

b. Kerjasama erat dengan serikat buruh sejati, bahkan menjadi bagian langsung dari serikat buruh sejati baik yang bekerja di sektor manufaktur, jasa, pelayanan hingga pertanian. Atau asosiasi buruh migran menjadi bagian dari Konfederasi Serikat Buruh Sejati di tempat kerjanya maupun di negeri asalnya. Hal ini sangat penting untuk memperkuat dan memperluas kesatuan aksi yang diperlukan secara taktis maupun strategis, dengan tetap memperhatikan kekhususan dari kondisi dan tuntutan buruh migran.

c. Serikat Buruh Sejati jelas bukan pelestari dan pendukung pengiriman buruh migran Indonesia ke luar negeri. Karena itu Serikat buruh sejati bersama-sama dengan gerakan lainnya, utamanya di pedesaan harus mengambil tanggung-jawab untuk mempromosikan perjuangan klas yang lebih intensif untuk land reform dan industri nasional di pusat-pusat buruh migran Indonesia seperti di Jawa dan NTB-NTT serta berbagai wilayah lainnya. Kita membutuhkan tenaga pejuang yang sangat besar dan bisa hidup dari perjuangan klas tersebut agar bisa bertahan dalam perjuangan jangka pendek dan jangka panjang.

d. Serikat Buruh Sejati harus berdiri tegak berjuang sungguh-sungguh untuk mencabut kebijakan dan peraturan buruh migran yang lama dan menghalangi keluarnya seluruh kebijakan dan peraturan baru yang menindas dan menghisap buruh migran. Dalam waktu bersamaan juga harus memaksa pemerintah RI meratifikasi konvensi ILO mengenai buruh migran untuk memperkuat perlindungannya.[]

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

Arsip Blog

item