SEPETA Indonesia Gelar Diskusi Siapkan Pergerakan untuk Perbaikan Kesejahteraan
INFO GSBI - Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (SEPETA Indonesia) Minggu (18/1/26) bertempat di Basecamp Komunitas Sawit menggelar di...
INFO GSBI - Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (SEPETA Indonesia) Minggu (18/1/26) bertempat di Basecamp Komunitas Sawit menggelar diskusi dengan anggota dan komunitas driver online Tangerang. Acara yang diselenggarakan sederhana namun hangat ini dihadiri oleh puluhan driver online yang tergabung dalam forum diskusi SEPETA.
Diskusi ini membahas situasi terkini ojol (ojek online) di
Tangerang dan rencana gerakan massa untuk memperbaiki kondisi ojol. Para
peserta diskusi menyampaikan aspirasi dan keluhan mereka tentang kesulitan yang
dihadapi dalam menjalankan profesi sebagai driver online.
"Tarif yang rendah, biaya operasional yang tinggi, dan
tidak ada perlindungan dari aplikasi membuat kami kesulitan," ujar salah
satu peserta diskusi.
SEPETA berencana untuk melakukan gerakan massa untuk
menuntut perbaikan kondisi ojol, perlindungan sosial, dan peningkatan
kesejahteraan driver online.
"Kami akan terus berjuang untuk memperbaiki kondisi
ojol dan meningkatkan kesejahteraan driver online," ujar, Iwan Setiawan
Ketua SEPETA.
Dalam rangkuman diskusi terdapat kesimpulan bahwa kemajuan
teknologi sektor industri ride hiling bukanlah untuk mensejahterakan rakyat
khusunya driver Ojol, melainkan platform digital melakukan ekpoitasi terhadap
Driver Online dan menguasai pasar di Indonesia Khususnya Gojek dan Grab.
Dalam prakteknya kebijakan sepihak Aplikasi platform
digital semakin menindas dan mengekploitasi melalui potongan aplikasi yang
besar, lebih dari 20%, kebijakan Slot, Aceng, hub, baru baru ini kebijakan
Gojek dengan Gacor Berbayar, Artinya driver harus bersaing dengan driver
lainnya dengan membayar sejumlah uang untuk mendapatkan orderan.
Selain itu Driver juga dipaksa menjadi konsumen barang over
produksi milik kapitalis, dengan adanya program sewa motor/mobil listrik, Biaya
sewa pasti, upah tak pasti!
Iwan memberikan contoh menyewakan motor listrik yang
dilakukan aplikasi Grab. untuk biaya Sewa Motor Listrik Rp.50.000 dan Rp.25.000
untuk biaya pengechasan (mengisi daya baterai) namun orderan dan upah tak
pasti.
Artinya belum bekerja ojol sudah wajib setor kepada
aplikator Rp.75.000 setiap hari.
Belum lagi kalau driver motor listrik ikut program Gacor
Berbayar. Bertambah lagi setorannya.
Tidak hanya itu, aplikator juga memanfaatkan driver menjadi
objek sasaran Pinjaman Online (pinjol) yang disediakan Aplikator. Ini menindas,
ini ekpoitas. Tegas Iwan.
Selain kebijakan sepihak aplikasi, Pemerintah pun abai
melindungi Ojol yang jumlahnya Jutaan, ojol belum mendapat pengakuan sebagai
pekerja dan perlindungan sosial.
Dalam forum yang digelar SEPETA melahirkan tuntutan
mendesak untuk jutaan Ojol Indonesia:
1. Segera terbitkan PERPRES perlindungan OJOL
2. Akui Ojol sebagai pekerja
3. Berikan perlindungan sosial
4. Berikan THR tanpa syarat.
5. Hak Berserikat & Berunding
6. Potongan Aplikasi maksimal 10%
7. Hapus Aceng, HUB, Slod, Gacor Berbayar!
8. Sediakan kontak darurat pelaporan, sebagai perlindungan
kepada ojol perempuan dari kekerasan dan pelecehan seksual selama bekerja.
Tuntutan ini menunjukkan bahwa SEPETA dan komunitas driver
online menuntut perlindungan dan keadilan bagi ojol di Indonesia. Semoga
tuntutan ini dapat didengar dan dipenuhi oleh pemerintah dan aplikasi platform
digital!
SEPETA berharap bahwa dengan adanya gerakan massa dan
tuntutan yang jelas, pemerintah dan aplikasi platform digital akan lebih
memperhatikan kesejahteraan dan hak-hak driver online. "Kami akan terus
berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kami," tegas Ketua SEPETA. (Tyg-SS)
