Refleksi Kritis: May Day — Perlawanan Ritual, atau Banding?

Refleksi Kritis: May Day — Perlawanan Ritual, atau Banding? Oleh: Emelia Yanti Siahaan/Sekjend DPP. GSBI Setiap tanggal 1 Mei, jalanan k...


Refleksi Kritis: May Day — Perlawanan Ritual, atau Banding?

Oleh: Emelia Yanti Siahaan/Sekjend DPP. GSBI


Setiap tanggal 1 Mei, jalanan kembali dipenuhi spanduk, teriakan, dan barisan massa buruh. Lagu-lagu perjuangan diputar, orasi-orasi dilontarkan, dan tuntutan-tuntutan kembali dikumandangkan. Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang pelan-pelan menggema: apakah May Day masih menjadi hari perlawanan, atau sudah berubah menjadi sekadar ritual tahunan—atau bahkan lebih jauh, menjadi “banding” simbolik yang tak pernah benar-benar dimenangkan?

Sejarah mencatat May Day lahir dari darah dan api. Ia bukan “hadiah” dari penguasa, atau pemodal. Ia adalah hasil dari perlawanan keras dan heroik  klas buruh terhadap sistem yang menindas dan menghisap—terutama perjuangan untuk jam kerja delapan jam. Di masa itu, kaum buruh tidak sekadar turun ke jalan untuk “menyuarakan tuntutan”; mereka bertaruh nyawa. Negara dan kapital berdiri sebagai musuh yang nyata, bukan  mitra dialog.

Namun hari ini, kita hidup dalam lanskap yang berbeda. Negara tidak lagi selalu tampil dengan wajah represif yang kasar—ia sering memakai topeng dialog, regulasi, bahkan “kemitraan sosial”. Kapital pun semakin licin, bergerak dalam jaringan global yang sulit disentuh. Dalam kondisi seperti ini, bentuk perlawanan pun berubah. Tapi perubahan ini membawa dilema: apakah kita sedang beradaptasi secara taktis, atau justru terjebak dalam domestikasi gerakan?

May Day di banyak tempat kini tampak seperti agenda yang sudah dijadwalkan rapi. Ada titik kumpul, ada panggung, ada susunan acara. Bahkan kadang ada sponsor. Di satu sisi, ini menunjukkan organisasi yang lebih matang. Tapi di sisi lain, ada risiko besar: perlawanan kehilangan daya kejutnya. Ia menjadi dapat diprediksi, bahkan mungkin sudah diantisipasi oleh pihak yang seharusnya ditantang.

Di titik ini, May Day bisa tergelincir menjadi ritual. Ia dilakukan karena “memang setiap tahun begitu”. Tuntutan yang dibawa pun sering berulang—penting, iya, tapi tidak selalu berkembang sesuai dengan perubahan situasi objektif. Kita meneriakkan hal yang sama, dan hampir di tempat yang sama, dengan format yang sama. Sementara di luar sana, sistem yang kita lawan terus berevolusi.

Lebih jauh lagi, ada kecenderungan May Day berubah menjadi semacam “banding”. Kita seperti sedang mengajukan permohonan berulang kepada negara: tolong dengar tuntutan kami, tolong perbaiki kebijakan, tolong lindungi buruh. Ini bukan hal yang sepenuhnya salah—karena dalam sistem hukum dan politik yang ada, ruang advokasi memang penting. Tapi persoalannya, jika seluruh energi perlawanan direduksi menjadi permohonan kepada kekuasaan, maka kita kehilangan posisi sebagai subjek yang berdaulat.

Banding, dalam logika hukum, diajukan kepada otoritas yang lebih tinggi dengan harapan keputusan sebelumnya diperbaiki. Tapi bagaimana jika “otoritas” itu sendiri adalah bagian dari masalah? Bagaimana jika struktur yang ada memang dirancang untuk mempertahankan ketimpangan? Di titik ini, banding bisa menjadi ilusi—memberi harapan tanpa benar-benar mengubah fondasi.

Ini bukan berarti kita harus menolak semua bentuk advokasi atau dialog. Tapi kita perlu jujur: perlawanan tidak bisa hanya bergantung pada pengakuan dari atas. Ia harus dibangun dari bawah, dari kekuatan kolektif yang nyata. May Day seharusnya menjadi momen konsolidasi, bukan sekadar ekspresi. Ia harus memperkuat organisasi, memperdalam kesadaran kelas, dan memperluas solidaritas lintas sektor.

Di tengah fragmentasi dunia kerja—dari buruh pabrik, buruh tambang, buruh kebun, pekerja informal, hingga pekerja platform digital—tantangan gerakan buruh semakin kompleks. Jika May Day hanya menjadi panggung bagi sebagian kelompok, maka ia kehilangan relevansinya. Tapi jika ia mampu menjadi ruang pertemuan berbagai bentuk kerja dan eksploitasi, maka ia bisa kembali menjadi kekuatan yang hidup.

Ada juga pertanyaan tentang keberanian. Perlawanan sejati selalu mengandung risiko. Jika May Day terlalu “aman”, terlalu “terkendali”, kita perlu bertanya: siapa yang diuntungkan dari kondisi ini? Apakah kita sedang melindungi diri, atau tanpa sadar sedang membatasi potensi gerakan kita sendiri?

Namun refleksi ini tidak boleh berakhir dalam sinisme. Mengatakan bahwa May Day telah menjadi ritual bukan berarti kita harus meninggalkannya. Justru sebaliknya: kita perlu merebut kembali maknanya. Ritual bisa menjadi kosong, tapi juga bisa menjadi sumber kekuatan jika diisi dengan kesadaran maju dan strategi yang tepat.

May Day harus kembali menjadi ruang untuk membayangkan kemungkinan yang lebih radikal. Bukan hanya menuntut perbaikan kecil, tapi mempertanyakan struktur besar. Bukan hanya bereaksi terhadap kebijakan, tapi juga merumuskan visi alternatif tentang dunia kerja dan kehidupan yang lebih adil.

Dan mungkin, di sinilah kuncinya: perlawanan bukan soal seberapa keras kita berteriak satu hari dalam setahun, tapi seberapa konsisten kita membangun kekuatan sepanjang tahun. May Day hanyalah puncak gunung es. Tanpa kerja organisasi yang terus-menerus, ia hanya menjadi seremoni semata.

Jadi, apakah May Day hari ini adalah perlawanan ritual, atau banding? Jawabannya mungkin: bisa keduanya. Tapi itu bukan takdir yang tidak bisa diubah. Itu adalah hasil dari pilihan—pilihan kolektif tentang bagaimana kita memaknai, mengorganisir, dan mengarahkan gerakan.

Kalau May Day hanya jadi rutinitas, maka ia akan perlahan kehilangan nyawanya. Tapi kalau kita isi dengan keberanian, strategi, dan solidaritas yang nyata, maka ia akan tetap menjadi api—yang mungkin tidak selalu terlihat besar, tapi cukup untuk terus menyala, dan suatu hari, membakar habis ketidakadilan yang kita hadapi.

Singkatnya: May Day bukan soal tradisi. Ia soal posisi. Mau berdiri sebagai penggugat yang sopan, atau sebagai kekuatan yang benar-benar menantang? Pilihannya ada pada kita (kaum buruh).

Kalau kita tarik napas lebih dalam—lebih panjang dari sekadar orasi satu hari—May Day seharusnya bukan cuma soal hadir di jalan, tapi soal ingat dari mana kita berasal. Hari ini lahir dari jejak panjang perjuangan kelas buruh ratusan tahun lalu: dari pabrik-pabrik gelap, dari tubuh-tubuh yang diperas tanpa batas, dari keberanian untuk bilang “cukup” ketika dunia memaksa mereka diam. Itu bukan cerita nostalgia. Itu fondasi.

Masalahnya, ingatan kolektif itu mulai terkikis. May Day sering dipahami sebagai agenda, bukan sejarah. Padahal tanpa memahami akar historisnya, kita mudah kehilangan arah—perlawanan jadi dangkal, tuntutan jadi repetitif, dan strategi jadi tumpul. Kelas buruh perlu merebut kembali kesadaran itu: bahwa setiap hak yang hari ini dianggap “normal” adalah hasil pertaruhan hidup mati generasi sebelumnya. Tidak ada yang diberikan cuma-cuma. Semuanya direbut.

Dan kalau kita jujur—jujur tanpa basa-basi—kondisi buruh hari ini tidak sejauh itu berbeda dari masa lalu. Bentuknya mungkin berubah, tapi logikanya sama: eksploitasi tetap jadi mesin utama. Jam kerja yang panjang masih jadi kenyataan, hanya saja kini dibungkus dengan istilah “fleksibilitas” atau “target produktivitas”. Upah masih dipotong, ditekan, atau dibekukan dengan berbagai dalih efisiensi. Kebijakan negara sering kali lebih cepat melindungi investasi daripada melindungi manusia yang bekerja di dalamnya.

Seolah-olah kita sedang melihat sejarah yang berulang, tapi dengan kostum yang berbeda. Dulu rantainya terlihat jelas, sekarang disamarkan oleh aplikasi, algoritma, dan jargon manajemen. Dulu penghisapan dilakukan secara terang-terangan, sekarang dibungkus dengan narasi “kemitraan” dan “kesempatan”. Tapi pada akhirnya, satu hal tetap konstan: nilai lebih terus diambil dari kerja buruh, sementara kesejahteraan yang dijanjikan selalu ditunda.

Di titik ini, May Day harus kembali menjadi cermin. Cermin yang memaksa kita melihat kenyataan tanpa ilusi. Bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa kemenangan-kemenangan masa lalu tidak otomatis menjamin keadilan hari ini. Bahwa tanpa kesadaran kelas yang kuat, kita mudah ditarik kembali ke posisi yang sama—atau bahkan lebih buruk.

Maka kelas buruh harus kembali belajar dari sejarahnya sendiri. Bukan untuk romantisasi, tapi untuk strategi. Untuk memahami bahwa kekuatan sejati tidak datang dari belas kasihan negara atau kapital, tapi dari organisasi, solidaritas, dan keberanian kolektif. May Day harus kembali diisi dengan semangat itu—semangat yang tidak hanya menuntut, tapi juga membangun kekuatan.

Karena pada akhirnya, pertanyaan tentang May Day—apakah ia ritual atau perlawanan—akan selalu kembali ke satu hal: seberapa dalam kita memahami siapa kita sebagai kelas buruh. Kalau kesadaran itu tajam, maka May Day akan hidup. Tapi kalau ia tumpul, maka sekeras apa pun teriakan kita, ia hanya akan jadi gema yang hilang di antara gedung-gedung kekuasaan.

Dan sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang lupa. []

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

Arsip Blog

item